Arsitektur di Negeri Bencana


ReArsitektur Nusantara tinggal remah-remah, bahkan nyaris punah. Sementara itu, kita perlu sadar sepenuhnya, betapa pen-tingnya identitas pribadi, baik bagi individu maupun bangsa, karena sudah menjadi kodrat manusia ia berperan sebagai subjek yang di-mintai pertanggung-jawaban.

Benarkah bahwa kaum arsitek lepas dari pertanggung-jawabannya selaku bagian dari anak negeri yang tengah dikepung bencana ini? Jika tidak benar, lalu apa yang bermanfaat untuk disumbangkan mereka pada negeri ini? Apakah andil itu diwujudkan dengan terus hanya mengejar prestasi dan prestise diri di pentas panggung seminar atau sayembara desain dengan segala kehebatan gelar dan penghargaan?

Mengkaji Arsitektur Nusantara bukan untuk kembali ke masa lalu. Di tengah-tengah dua persoalan mendasar di atas hancurnya identitas manusia dan masyarakat serta rusaknya alam lingkungan Nusantara pengembangan ilmu arsitektur di negeri ini mesti menanggapinya dengan berupaya menempatkan arsitektur di titik perimbangan yang adil-bijak: tak hanya berpihak pada manusia. Tetapi juga pada kelestarian alam. kontekstualisasi Arsitektur Nusantara di negeri subur-makmur yang kini beralih menjadi negeri bencana ini adalah untuk mendudukkan kembali Arsitektur Nusantara sebagai peradaban arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial. Itu akan tercapai bila nilai universalitas arsitektur negeri ini ditemu-kenali kembali, lalu ditumbuh-kembangkan sebagai rerumpunan kebudayaan yang tetap majemuk, yang terjagai oleh perangai dan sifat kasih-sayang masyarakatnya.

Maka, rekontekstualisasi itu mau tak mau harus diposisikan sebagai bagian dari upaya kebudayaan yang lebih besar, yang berskala negeri dan kebangsaan. Untuk itu, Indonesia yang kini ada dalam kungkungan jeruji bencana sosial, ekonomi, budaya, dan alam ini, memerlukan kepemimpinan bangsa yang kuat: mampu mengembalikan manusia dan alam Nusantara pada fitrahnya.

GWP | 4/24/2010 |